Category Archives: seni budaya

Dua Raja Satu Panggung (Soneta vs God Bless)

Tempo 14 Januari 1978. ACARA musik melepas tahun 1977 diserahkan kepada OM Soneta pimpinan Rhoma Irama dan God Bless pimpinan Ahmad Albar. Berlangsung di Istora Senayan, 31 Desember yang lalu, atas prakarsa Karang Taruna Pasar Baru dan dikoordinir oleh muda-mudi “Siliwangi”. 

Acara itu bermula hendak dilepaskan di gedung mewah Balai Silang. Tapi Haji Oma Irama tidak setuju. “Fans kami yang menengah ke baah tidak akan menjangkau ruang itu,” kata Oma. Dengan harga karcis antara Rp 1.000 sampai Rp 5.000, toh Istora aku benar-benar bisa dipadatkan. Apalagi hujan sudah gelisah-sejak sore, dan sampai tengah malam suasana basah dan kuyu. Waktu gong dibunyikan, Albar dan oma sama-sama naik panggung. 

Kedua raja yang berbeda aliran ini saling bersalaman, diikuti tepuk tangan gemuruh. Dua ekor merpati putih yang sejak tadi dipegang kedua raja itu dilepaskan. Beberapa buah balon ikut membubung. Kemudan salah seorang penonton mengulurkan uang logam untuk mengundi siapa di antara keduanya wajib tampil lebih dahulu. Ternyata Ahmad. Hadirin tepuk tangan gemuruh. God Bress malam itu muncul dengan formasi yang sama dengan versi TIM. Tapi mereka tidak membiarkan Donny terlalu banyak muncul. Permainan solo dikurangi. Continue reading

Lagu begitu kok menang (LCLR Prambors 1978)

Tempo 20 Mei 1978. TAK tersangka, lombacipta lagu remaja ke II yang diselenggarakan oleh ‘Prambors Rasisonia’ dirubung oleh 1.295 buah lagu. Juri yang diketuai achmad Albar, dengan barisannya Mus Mualim, Rahadi Purwanto, Temmy Lesanpura, Bens Leo, Donny Fatah, Keenan dan Yoki, sampai kelabakan pasang kuping. Continue reading

Nasib bintang kawakan

Tempo 30 Juli 1977. DAHLIA menyewa kamar itu Rp 20.000 sebulan. Ukuran 2 x 3 meter, berisi dua buah dipan berkasur tipis, sebuah meja yang sarat oleh piring dan perlengkapan dapur sederhana, baju-baju yang disampirkan, tersusun rapi di sudut, beberapa buah buku, dan boneka anjing-anjingan.
Kalau ada tamu datang, digelar sebuah selimut abu-abu sebagai pengganti kursi. Dahlia, bekas bintang film tenar, usianya kini 51 tahun. Rambut masih hitam, badan sedikit kurus, dan kalau saja dia mau memoles diri masih memancar keayuannya. Puteri Tengku Katan yang masih kerabat Sultan Deli ini tinggal bersama anaknya yang sudah gadis: Ida, 19 tahun, dari suami Armansyah (almarhum). Tentang suaminya yang kedua, Yubaar Ayub, “sebelum Oktober 1965 saya sudah pisah tafel en bed,” ujar Dahlia. Yubaar – eseis dan penulis sandiwara Siti Djamilah — kini meringkuk di penjara Salemba. Selain anggota DPRGR Yubaar dulu adalah Sekretaris Jenderal LKRA. Di awal Yubaar dipenjara, “saya masih bezoek. Tidak lagi kini, untuk tidak mengganggu keluarga Yubaar.” Dahlia sendiri tidak pernah ditahan atau diinterogasi. “Malahan Baby Huwae, Norma, Sari Narulita, dan yang lainnya, pernah diinterogasi. Tapi saya tidak. Justru saya tidak senang dengan Gerwani waktu itu.” Meski begitu rumah Dahlia di bilangan Cikini jadi korban demonstrasi dan kini dihuni orang lain. Di tahun 1954 Dahlia dilantik Bung Karno sebagai Ketua Barisan Bhinneka Tunggal Ika “Jangan keliru dengan perkumpulan pagar ayu yang dibuat oleh Sabur almarhum, karena barisan saya khusus untuk menerima tamu-tamu agung,” katanya. Bhinneka bertugas pertama kali ketika Kepala Negara Woroshilov dari Rusia berkunjung ke Indonesia. Anggota barisan antara lain: Hamid Arief, Dien Jacobus (penyanyi sopran yang kini di luar negeri) dan Sofia Waldi (sekarang Sofia WD). Banyak ceritanya tentang kehidupan Istana waktu itu. Antara lain: “Saya kena marah Ibu Fatmawati karena saya pergi ke Bogor bertemu dengan Hartini. Wah, saya-ini kan cuma kerja saja. Diperintah ke Bogor yah ke Bogor.” Dahlia masih saja dengan sifatnya yang dulu: kritis, tajam dan bersemangat. Continue reading

Si tahun 30-an kembali

Tempo 02 April 1977. PENTAS klab malam Tropicana di Senayan, Jakarta, Sabtu malam 19 Maret memunculkan pertunjukan serba tua.
Para artis film dan panggung yang sudah lanjut usia, tergabung dalam grup ‘Gaya Tangkiwood’, mempersembahkan ‘Kabaret 1930-an’. Tarian-tarian dibawakan oleh Hasnah Harun (48 tahun), Sukaesih (64), Rosali (67) dan Siti Rukmini (66). Lalu lagu-lagu zaman dulu, Tanjurlg Perak, Laki Cue Buaye dan Jali-jali, dibawakan penuh keaslian oleh Sainah (61), Rosali dan Siti Rukmini. Keplok pengunjung mengguyur. Apalagi kabaret yang zaman dulu mereka sebut juga My Golden Baby itu, yang pernah ditampilkan rombongan-rombongan sandiwara Dardanela (1934) Bolero (1935) dan Pagoda (1936), ditutup lawakan yang dibawakan Tan Tjeng Bok alias Pak Item (77), Emma Gangga (54), Salim (52) dan Tony Mulia. Continue reading

Eksperimen guruh

Tempo 02 April 1977. MUHAMMAD Guruh Irianto Sukarno Putra, yang mendadak terkenal karenla lagu Renjana, memang tak berhasil membawa kemenangan dari Tokyo.
Tapi mahasiswa tahun ke-3 Universitas Amsterdam jurusan arkeologi ini terus bergulat dengan musik. Sebelum menulis lagu-lagu pop, dia memang getol nongkrong di belakang gamelan. Mula- mula orang mencemoohkannya karena dianggap sebagai keisengan seorang anak orang ternama, yang tak tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi kini jelas, itu tidak semata mata pelarian. Sebuah kaset berikut sebuah buku dengan disain yang mirip dengan disain opera rock Jesus Christ Super Star muncul sebagaibukti. Continue reading

Potret pendek seorang penghibur…

Tempo 01 Januari 1977. SETELAH Bing tiada, setelah Kwartet Jaya pecah, setelah Gudel berhenti pada langkah kecil, sering ditanyakan pada siapa lagi kita letakkan harapan sebagai penghibur kita semua. Banyak grup bermunculan di ibukota. “Surya Grup” misalnya. Tapi ada seorang yang jauh lebih menampakkan potensi, karena dia berjuang sendiri. Setidak-tidaknya bahaya laten berupa perpecahan yang selalu melanda “grup” yang baru saja sukses, tidak jadi momoknya. Dan orang itu adalah Benyamin. Lengkapnya: Benyamin S. Ia sudah tegak di antara kita, meskipun dimulai dengan banyak ganjelan. Tatkala seorang penyanyi dan pelawak dari kampung dinobatkan sebagai aktor terbaik pada tahun 1973, banyak orang melongo. Sedikit sekali yang benar-benar percaya, bahwa sebuah film komedi yang bernama Intan Berdun telah sanggup menyulap seorang penyanyi “gambang keromong” menjadi orang yang berhak menerima kehormatan yang diidamkan oleh setiap Bintang Film itu. Benyamin – sang aktor – barangkali membuka juga telinganya pada waktu itu. Tetapi hatinya tetap tenang. Continue reading

Juara pop singer di tokyo

Tempo 26 Juni 1976. RAMBUT kribo keriting Kumis tebal dan kulit gelap. Penyanyi pop asal Maluku, Melky Gouslow, 29 tahun, rasanya lebih cocok jadi centeng ketimbang jadi penyanyi. Nyatanya, dia mempunyai kebolehan suara. Melky, berhasil merebut kejuaraan Pop Singer 1975 dan turut berlomba ke Tokyo untuk World Pop-song Contest.
Sama halnya rekannya sekampung Broery Pesolima. Melky tidak berhasil apa-apa. Biarpun Melky bertampang seram, dia tidak menakutkan para gadis. Banyak Fansnya, apalagi si Melky ini bujangan dan kantongnya lumayan tebalnya karena kini dia penyanyi tetap di klab malam Maxim Santai, Hotel Kartika Plaza. Kemudian ada pula penyanyi lain yang namanya Yonas Souissa. Melihat namanya, sudahlah pasti yang terakhir ini orang sekampung dengan Melky. Jual suara pula, tapi Yonas selain menyanyi di klab malam Blue Ocean adalah juga salah seorang anggota paduan suara Andarinyo. Belum seterkenal Melky tapi Yonas sering disangka Melky. Yonas yang tadinya bermukim di Surabaya terus di-Jakarta-kan oleh Bing Slamet almarhum. Continue reading