Category Archives: Tokoh

Hamengku Buwono Ke IX Memberi …

sultanTempo 01 April 1978. TIDAK bersedianya Sri Sultan Hamengkubuwono IX dicalonkan kembali sebagai Wakil Presiden, banyak mengundang tanda tanya. Betulkah ia mundur hanya sekedar kesehatan matanya? Dan kalimat yang menyatakan “saya merasa cukup mampu dan karena itu tetap bersedia, apabila dikehendaki, untuk membantu dalam kelanjutan usaha pembangunan nasional di negara kita,” apakah itu berarti mundur untuk kemudian maju lagi? Sri Sultan (tanggal 12 April nanti usianya baru 66 tahun) kemudian memberikan jawaban tertulis, setelah menolak semua wartawan yang ingin mewawancarainya secara langsung. 

Mungkin ia merasa “risi” pada wartawan atau mungkin agar jawabannya akan lebih akurat bila ditulis. Ia rupanya terutama hendak membantah, bahwa ia tak mau dicalonkan lagi karena tidak sefaham dengan Presiden Soeharto. Katanya: “Andaikata fikiran itu benar, sudah pasti saya tidak akan bersedia untuk membantu dalam kelanjutan usaha pembangunan nasional kita.” Tapi kapan sebenarnya ia memutuskan secara bulat? Dan kalangan terdekat Sultan ada membisikkan bahwa putusan itu diambil di tanggal 21 Januari. Apa yang benar-benar jadi alasannya tetap tidak jelas, meskipun yang rupanya mengganggu ialah “soal pengawalan ke mana saja ngarsa dalem pergi,” seperti dikatakan Prof. Selo Sumardjan, sekretaris yang sering jadi “tangan kanan Sultan dan mulut Sultan” itu. Continue reading

Bung Karno lagi Menilai Bung Karno, Setelah Blitar

Sayuti Melik

Sayuti Melik

Tempo 30 Juni 1979. Edi, 20 tahun, dari udik di Subang, mengenal Bung Karno hanya dari cerita orang-orang tua. Juga Jaka Budi, 17 tahun, murid SMA di Jakarta dan anak seorang panglima Kodam, hanya tahu Bung Karno dari teman-temannya, yang ikut grup musik Swara Mahardhika pimpinan Guruh Sukarno. Bila Edi menyangka Bung Karno adalah “orang sakti yang ‘punya banyak jimat”, Jaka menganggap Bung Karno, ‘yah, bagaimana, ya, lumayan, deh.’ 

Itu pendapat anak muda sekarang. Tapi baik kita dengarkan pendapat orang-orang yang mengenal Almarhum, sebagai berikut: SAJUTI MELIK Sajuti Melik, kini anggota DPR fraksi Karya Pembangunan, menjelang 70 tahun umurnya. Di pertengahan 60-an ia dikenal sebagai penulis risalah panjang “Belajar Memahami Sukarnoisme”, suatu tafsiran tentang ajaran Bung Karno. Pada saat itu, fikiran Bung Karno dalam pidato Manifesto Politik dan lain-lain praktis merupakan semacam “Kitab Suci” bagi seluruh kekuatan olitik yang ada. Siapa yang dianggap menyeleweng kena “ganyang.” Namun penafsiran tentang ajaran itu menimbulkan bentrokan, terutama antara yang pro-komunis dengan yang bukan. Sajuti termasuk yang terakhir. Continue reading

Di Sini Proklamator Dimakamkan

SoekarnoTempo 30 Juni 1979. TAK terasa terlalu panas siang itu, meski matahari kemarau hampir tepat di atas kepala. Di tangga teras makam Bung Karno dari batu pualam warna putih berkilat, Presiden Soeharto dan Nyonya Tien melepas sepatu. Dua tiga langkah lagi sampailah ke makam Proklamator yang lantainya juga dari batu pualam putih, berpagar kaca. Setelah berjongkok untuk berdoa, Presiden bangkit lalu menabur bunga.

 

Ny. Tien sempat bersujud selama beberapa detik. Itu puncak acara peresmian pemugaran makam Bung Karno di Blitar, Kamis siang 21 Juni pekan lalu, tepat 9 tahun setelah Presiden pertama RI itu wafat. Makam itu tak bernisan hanya dibatasi semacam tanggul persegi empat memanjang. Di tengahnya ditaburi batu-batu kerikil. Beberapa senti di arah kepala diletakkan sebuah batu pualam warna hitam kebiru-biruan. Di situ tertulis huruf-hurur kuning keemasan: Di sini dimakamkan Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia.

  Continue reading

Ahmad subardjo (1896-1978)

Ahmad Subarjo

Ahmad Subarjo

Tempo 23 Desember 1978. MEREKA yang biasa berjalan pagi di sekitar jalan Cikini Raya, Jakarta, tidak akan melihat pemandangan ini lagi: Seorang tua pendek berjenggot putih memakai mantel, tiap pagi (bila tidak hujan) berjalan-jalan dari rumahnya di Cikini Raya sesudah sembahyang subuh. Mereka mungkin tidak tahu siapa kakek yang usianya sudah melewati 80 tahun itu. Mungkin mereka tidak tahu juga berjalan kaki tiap pagi adalah caranya untuk bisa awet muda dan lancar berpikir berdasar resep: “Jangan cemas dan jalan kaki banyak-banyak.” 

 

Hari Jum’at pekan lalu, orang tua itu Prof. Mr. Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo, meninggal dunia di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, dalam usia 82 tahun karena flu yang menimbulkan komplikasi. Upacara pemakaman secara militer dipimpin Menko Polkam M. Panggabean. Jenasahnya dimakamkan di halaman depan rumah istirahatnya di Cipayung, Bogor. Begitu memang permintaan almarhum untuk dimakamkan “dekat gunung, sawah dan rakyat dengan desanya yang sedang membangun.” Untuk jasanya, pemerintah mengangkat almarhum sebagai Pahlawan Nasional. Continue reading

Meninggal Dunia (R.M. Margono Djojohadikusumo)

Tempo 05 Agustus 1978 .Meninggal dunia “SAUDARA Margono wajib dijadikan contoh oleh Angkatan Muda sekarang,” seru Dr. Mohammad Hatta, bekas Wakil Presiden pertama RI. Bung Hatta turut melepas jenazah R.M. Margono Djojohadikusumo, 84 tahun, di Taman Matraman, Jakarta, ke pemakaman keluarga di Dawuhan, Banyumas, Jawa Tengah. Continue reading

Meninggal Dunia Siti Menara Saidah Chaerul Saleh

Tempo 03 Juni 1978. HAJI Johanna Siti Menara Saidah Chaerul Saleh — L. Datoek Toemenggoeng meninggal Sabtu, 19 Mei yang lalu. Teman-teman dekatnya biasa memanggilnya dengan sebutan zus Yo dan masyarakat sekelilingnya biasanya memberi panggilan kepada almarhumah Ibu Yo Chaerul Saleh. Continue reading

Pemugaran Makam Bung Karno, 1978

Tempo 03 Juni 1978. SUARANYA yang menggelora memang tidak terdengar lagi. Tapi kehadirannya kembali terasa, hampir satu windu setelah ia meninggal. Duabelas tahun yang lalu orang seakan berlomba mengecamnya. Kini, hampir tiap hari koran-koran memberitakannya — banyak di antaranya dengan nada memuji. Bung Karno populer kembali? Continue reading