Category Archives: Umum

Herman, Sang Grandmaster

Tempo 09 September 1978. PILIH keluarga, apa catur?” Ultimatum itu dilontarkan oleh seorang nyonya kepada suaminya yang baru saja menyandang gelar International Grandmaster Result dari turnamen catur di Primorsko, Bulgaria. Itu terjadi pada suatu hari di bulan Maret, 1978. Yang ditantang berfikir sejenak. Dan ia memilih yang terakhir. Apa yang bakal terjadi sudah bisa ditebak. Apalagi kalau bukan perceraian. Kedua suami-isteri tersebut lalu berpisah pada tanggal 28 Maret itu juga. Suami yang memilih karir ketimbang keluarga itu adalah pemain catur nasional, Herman Suradiredja. Dalih perpisahan mereka, cuma pendek. “Sayang kalau ditinggalkan. Sedang gelar Grandmaster sudah di ambang pintu,” demikian alasan Suradiredja, ayah dari seorang putera. Apa yang dicita-citakan Suradiredja, akhirnya terkabul juga. Di Plovdiv Bulgaria ia berhasil mencatat permainan yang gemilang dengan mengumpulkan nilai 9� di antara 14 peserta turnamen catur yang berlangsung dari tanggal 10 s/d 25 Agustus kemarin. Maka ia berhak untuk memakai gelar Grandmaster yang diidam-idamkannya, sekalipun pengesahan dari Federation Internationale des Echecs (FIDE), induk organisasi catur dunia, masih harus ditunggu Oktober nanti. Continue reading
Advertisements

Lely, Menjelang Manila

Tempo 11 Februari 1978. SUATU hari di tahun 1960, di sebuah rumah dalam kompleks militer Husein Sastranegara (d/h Andir), Bandung, seorang nyonya tak mendua hati lagi untuk memakai pistol milik suaminya.
Kendati ia belum begitu faham bagaimana cara menarik picu senjata tersebut. Maklum, ia bekas guru Sekolah Dasar. Kekurangan itu sama sekali tak mengecilkan hatinya. Dalam kepala ia diam-diam memadu tekad: tantangan dwi lomba menembak antar isteri militer yang dilayangkan Persit Kartika Chandra Kirana, organisasi isteri TNI-AD harus dijawab dengan prestasi. Mengingat di tangannya kini tergengyam nama baik organisasi isteri TNI-AU, PIA Ardya Garini. Continue reading

Yang Terbaik Dimata Wartawan

Tempo 07 Januari 1978. SIAPAKAH yang pantas menyandang gelar Olahragawan, Pembina Olahraga, dan Penunjang Olahraga semuanya yang ‘terbaik’ untuk 1977?
Di Sekretariat SlWO/PWI Jakarta, Sabtu 31 Desember siang, 35 pemilih berdebat seru dalam menilai kandidat yang pantas. Sebab kegiatan olahraga tahun lampau memang banyak melahirkan olahragawan maupun olahragawati dengan prestasi memukau – di samping pembina dan penunjang yang menopang keberhasilan mereka. Continue reading