Indonesia Rebut 2 Emas Bulutangkis Olimpiade

KOMPAS, Rabu, 5 Agustus 1992.  Barcelona, Kompas. Susi Susanti dan Alan Budikusuma benar-benar membuat sebuah  persembahan gemilang yang tidak pernah bisa dilakukan pemain sekaliber Rudy Hartono maupun Tjuntjun/Johan Wahyudi di masa keemasan mereka. Kedua “pasangan emas” itu membawa Indonesia  memasuki era emas setelah hari Selasa masing-masing merebut medali  emas bulu tangkis Olimpiade Barcelona.

Untuk pertama kali sepanjang sejarah keikutsertaan di arena olimpiade, Indonesia kemarin mampu mendapat dua medali emas sekaligus. Susi Susanti, 22 tahun, mengawali masa emas Indonesia  dengan memenangkan tunggal putri setelah menundukkan pemain Korea Selatan, Bang Soo-hyun 5-11, 11-5, 11-3.

Sejam kemudian Alan Budikusuma melengkapi kegemilangan Indonesia di nomor tunggal putra dengan menumbangkan rekannya sendiri, Ardy B. Wiranata dengan dua set langsung 15-12, 18-13. Continue reading

Bung Tomo Mundur

Tempo 20 Desember 1975. KEPADA Indonesi Times Bung Tomo msnyampaikan pengumuman yang paling berharga bulan ini: “Saya ingin menyatakan kepada para wartawan bahwa inilah wawancara saya yang terakhir mengenai 10 Nopember”. Sikap Bung Tomo ketika itu sudah ogahan, kata koran itu. Dia merasa bahwa peranannya dalam Revolusi cuma kecil saja. Nah, jadi mulai sekarang para kulitinta harus cari bintang-bintang baru. Sebab masih ada jutaan lainnya.

Bagi pemimpin rakyat yang sejati dan rendah hati, lama-lama memang susah hidup dengan adat-upacara setiap 10 Nopember itu: selalu dirinya jadi pusat perhatian dan sanjungan, selalu dirinya jadi tempat bertanya dan sumber sejarah. Pengalaman demikian memang nikmat, suatu kemewahan yang kebanyakan pemimpin tidak suka lepaskan begitu saja. Betapa tidak. Ini menjamin nama harum sepanjang hidupnya, dan tinta emas sesuah mati. Dan siapa tahu, mungkin juga monumen dan mausoleum dan harum kemenyan. Continue reading

“Inggris, Jangan Mendarat!”

mustopo

dr Moestopo

Tempo 08 November 1975. RAKYAT Surabaya, dipelopori oleh Badan Keamanan Rakyat, pimpinan Dr. Mustopo bekas Daidanco Gresik, berhasil melucuti Jepang. Gedung-gedung dan mobil-mobil ditulisi “Milik RI”.

“Senjata-senjata Pun kita bagikan begitu saja. Anak belasan tahun membawa senjata. Panser dan tank-tank pun menderu-deru keluar masuk kampung dikendarai oleh supir-supir mobil atau truk”, tutur Prof. Dr. Mustopo mingu lalu di rumahnya jalan Juanda Bandung. Dan sesungguhnya Surabaya mulai demam sejak insiden bendera di hotel Yamato lihat: Bendera Itu Tak Boleh Di sana lagi). Apalagi setelah Bung Tomo membentuk Barisan Pemberontakan Rakyat (BPRI) pada tangal 12 Oktober, dan sehari kemudian mendirikan Radio Pemberontakan. Continue reading

Taufik Genapi Kemenangan Indonesia (Piala Thomas Th.2000)

Kuala Lumpur, Kompas. 22 Mei 2000. Begitu bola drive Taufik Hidayat (18) jatuh menyusur di dalam garis lapangan sebelah kanan Ji Xinpeng, usailah sudah perjalanan panjang perjuangan Tim Piala Thomas Indonesia. Taufik dan kawan-kawan bermain gemilang, menggilas Cina 3-0 di final Piala Thomas, di Stadion Putra, Kuala Lumpur (Malaysia), hari Minggu. Sungguh sebuah kemenangan penutup yang manis, setelah di semifinal mereka lolos lewat pertarungan ketat melawan Denmark.  Dengan kemenangan itu, para pemain menyamai rekor merebut Piala Thomas empat kali berturut-turut, mengulang sukses dalam periode tahun 1970-1979. Selain itu, mereka pun mencetak rekor baru, yakni 12 kali merebut Piala Thomas. Demikian diberitakan wartawan Kompas Brigitta Isworo semalam. Continue reading

Mereka Pulang dari Nirbaya (Bung Tomo Bebas)

Tempo 14 April 1979. BUNG Tomo, 58 tahun, lagi sembahyang maghrib di kamar tahanan ketika sedan Primier biru metalic B 1583 EG masuk halaman perkampungan tahanan Nirbaya di pinggir selatan Jakarta, Senin sore kemarin. Isteri dan ketiga anak Bung Tomo turun. Mereka menjemput Bung Tomo yang hari itu bebas setelah ditahan setahun.

Tepat jam 19.00, menjelang Isya, Bung Tomo keluar. Wajahnya gembira, ia tampak lebih sehat tapi tambah gendut. “Habis, di sini makan melulu. Lagi pula ada larangan dokter untuk senam, ” katanya setengah berteriak. Ia mengenakan baju hangat dari wool abu-abu. Ada 7 tas dan 3 ember plastik, 1 koper dan 1 ranjang lipat dibawanya pulang. Juga sebuah kompor. Continue reading

Padamu Pahlawan tak Seorang Berniat Pulang, Tidur

HAWA sangat dingin menyusup tulang. Diselubungi gelap gulita, saya duduk dalam sebuah kereta api amunisi yang menembus malam menuju ke Wonokromo…. ajar mulai menyingsing. Sepur terus menderu dalam gerimis. Muka prajurit-prajurit duduk di dekat saya yang menjadi pengantar dinamit untuk pahlawan-pahlawan Surabaya pucat lesi kelihatannya. Barangkali kurang tidur… Malam hari di dekat garis pertempuran. Mortir dari laut bergegar di atas kepala..

Langit merah warnanya. Bulan purnama raya, tulis reporter Rosihan Anwar dalam Harian Merdeka, 1945. Dan subuh pagi itu, Sabtu 10 Nopember 1945, Surabaya hanya tampaknya saja masih lelap. Namun ketegangan sudah mencekam beberapa hari sebelumnya. Meja, kursi, lemari, ambin, bangku panjang, batang-batang pohon, apa saja — melintang di jalanan. Di setiap sudut kota berpasan-pasang mata siap dengan keris, senapan, bambu runcing, geranat, golok, pistol, pedang, karabin, tombak, sumpitan, panah berbisa. Juga beberapa tank dan meriam rampasan. Continue reading

Meninggal Dunia, Soegondo Djojopoespito

Tempo 06 Mei 1978. SOEGONDO Djojopoespito, 74 tahun, telah berpulang Minggu 23 April yang lalu. Almarhum adalah Ketua Kongres Pemuda 1928, kongres yang berhasil mengeluarkan motto Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Taman Siswa, Celeban, Yogya.

Beberapa bulan yang lalu, almarhum pernah mengeluarkan kritiknya atas perilaku pemuda sekarang. Yaitu menganggap segala hal mudah dan gampang. “Mental demikian ini sangat mengkuatirkan,” demikian beliau pernah berujar. Tapi almarhum tidak setuju akan niat dan istilah “pewarisan kepada generasi muda.” Soegondo lebih setuju kalau generasi muda biarkan saja menentukan masa depannya sendiri.   Continue reading