Senjata Situbondo

Tempo 9 September 1972. Team sepak bola Situbondo, maju ke final turnamen “Suratin Cup” 1972. keberhasilannya agaknya berkat permainan yang gigih dan lugas. motif lain yang mendorong ke final, pemain ingin melihat Jakarta.
ENDAPAN rasa terkejut dun penasaran agaknya memaksa sementara pecandu bola membuka mata dun peta. Dimana persisnya letak Situbondo, yang sonder publikasi besar-besaran laju menuju final Turnamen “Suratin Cup” 1972? Kota kabupaten berpenduduk sekitar 400.000 orang yang terletak 180 km di timur Surabaya mempunyai cukup alasan membikin orang repot sebentar. Sebab sebagai anggota “6 besar” finalis Kejuaraan Junior PSSI, Team ISSS (Ikatan Sepakbola Situbondo dun Sekitarnya) bukan saja berhasil menyisihkan ke-4 team lainnya, malahan telah mengangkat mutu turnamen ke taraf yang tidak pernah dicapai sebelumnya.

Si Jangkung. Bermain sederhana, tapi bersemangat, Situbondo merebut hati penonton dengan kekompakan kesebelasan dan tekad kemenangannya: Rudy Keltjes “si Jangkung” yang gerak-geriknya lamban ternyata memiliki ball feeling dan ketrampilan membagi bola dengan timing lebih dari lumayan. Bangun tubuh dan gaya permainannya mengingatkan orang pada Rudy Jahn pemain Persija tahun 50-an. Rudy K membuktikan bahwa gaya lamban, tapi dengan kemampuan mengontrol dan menempati posisi yang tepat, permainan cepat yang dikembangkan kawan-kawannya tak usah terhambat, bahkan bisa lebih terarah. Dibantu oleh Oey Kim Tie, penyerang tengah ditarik mundur, barisan depan yang dimotori Sandjoto dengan kedua sayapnya masing-musing Soetryono dun Radjui, serangan-serangan tanpa banyak variasi ternyata berhasil berkali-kali merobek-robek pertahanan lawan. Dibarisan belakang: kedua back Harsono dan Rasjidi, dibantu kedua spilnya Koestarto dun Moedji, mengawal gawang Chasim dengan lapisan pertahanan yang cukup ketat. Sementara penghubung Abdul Adjis yang bermain sedang-sedang saja, tidak sampai mengurangi kekompakan regu.

Cipete. Adakah peluang bagi pemain pemain seperti Sandjoto, Kim Tie, Rudy dan Koestarto misalnya untuk merasakan te PSSI? Pertanyaan tersebut nampaknya tidak kurang pentingnya dari pertanyaan bagaimana pimpinan ISSS membina dun membangun material permain-pemainnya menjadi satu team yang kompak? “Terus terang kami cuma andalkan latihan stamina dan kecepatan permainan”, kata Soedjoed, Team Manager ISSS kepada TEMPO yang datang menjenguknya di Pusdiklat Polri Cipete. “Soal teknis permainan memang diakui kami ketinggalan. Kami hanya pemain alam”, tambahnya seraya memperkenalkan pelatihnya Sujoto, yang kini masih aktif bermain untuk Kesebelasan ISSS Senior dan pernah mendapat kursus asisten coach dari Djamiat Dalhar. Tapi Soedjoed yang berpangkat Kapten AD menerangkan selanjutnya berbagai kesulitan dalam mencari seorang Coach. Semula campus tangan Persebaya melalui Coach Misbach dimintai bantuannya, tapi karena Persebaya sendiri ingin membangun team Juniornya, Misbach terpaksa ditarik.

Main sabet. Sejak itu pembinaan team dilakukan oleh orang Situbondo sendiri. “Untuk mengatasi kekurangan teknis, pengasuh ISSS Jr. perlu memperagakkan taktik permainan: “Situ atau kita, atau sama-sama tidak dapat bola”. Itulah sebabnya permainan Situbondo tidak bertele-tele semangat bertanding gigih, main sabet kalau perlu dan tempo permainan yang tinggi harus stabil dari awal sampai akhir. Sudah barang tentu taktik itu hanya dapat berjalan dengan modal mental dun disiplin membaja, disamping kebolehan anak-anak Jawa Timur ini mengembangkan dasar-dasar permainan sepakbola. Ini terbukti pada babak penyisihan sampai final, ISSS Jr. bermain tanpa kompromi: menang atau kalah. Lawan Bondowoso menang 4-1, Jember 2-0, Banyuwangi 4-1, Pasuruan 3-0, Persema (Malang) 3-1 dun Perseden (Den Pasar) 2-0. Di babak final mengalahkan Bandung dun Medan masing-musing 2-0 dun 1-0. Terutama ketika Situbondo bertarung lawan Medan kelihatanlah betapa fanatik semboyan “Situ atau kita”, sehingga wasit Sundoro terpaksa mengeluarkan back Rasjidi 25 menit menjelang bubaran meskipun oleh penonton sang Wasit diejek sebagai “lupa membawa kartu kuning”.

Televisi. Ada motif lain yang turut menghantarkan mereka ke Jakarta. “Hampir seluruh pemain-pemain kami belum pernah melihat Ibukota, apalagi televisi. Maklum mereka dari kota kecil”, ujar Soedjoed pada TEMPO menjelang mereka melawan Persija. “Ja, kalau andaikata kami menang, bagaimana dengan Piala Suratin, masakan dibawa dengan bis?” tanyanya dengan rasa malu. Memang merupakan problim juga bagi anak-anak Situbondo ini, seperti kata Sutjipto Judodihardjo (bekas Pangdak kelahiran Situbondo) bahwa “mereka belum pernah naik pesawat terbang jadi ingin sekali mencobanya”. Maka lepas jadi juara atau tidak, beberapa pemuka masyarakat Situbondo di Jakarta mengusahakan agar mereka bisa pulang dengan pesawat via Surabaya. Kedusunan mereka terlihat pula ketika karangan bunga yang dibagi-bagikan kepada setiap pemain untuk ditukarkan kepada lawan dalam suatu upacara, ternyata disimpan di kamar pakaian sampai pertandingan selesai. Hal-hal semacam itu agaknya menambah semaraknya Turnamen.

Jembatan. Persija dengan materi pemain seperti yang diturunkan selama Turnamen tidak memerlukan banyak komentar (TEMPO, 19 Agustus) Diizinkan Sutan Harahara oleh PSSI ikut memperkuat barisan belakang Persija menampakkan kelemahan menyolok spil Udin Kotta. Mengapa Komtek Persija tidak memasang Ali Tukarya di samping Sutan – tapi di back kiri sampai sekarang masih jadi tandatanya. Yang pasti Ali tidak akan bertindak seceroboh Udim Pertanyaan serupa datang dari para suporter Persija sendiri yang tidak mengerti mengapa Martin tidak dipasang, malahan pemain seperti Sukanta termasuk daftar “17 pemain” pun tidak. Cideranya Toto ternyata membawa keuntungan besar bagi Persija. Beberapa peninjau sampai saat ini merasa was-was betapapun Persija memiliki pemain-pemain harapan, tidak mustahil mereka akan menjadi “pemain harapan” sampai tua akibat salah urus tentunya. Pada soal yang terakhir ini orang berpaling pada Edeng Sulaiman, Team Manager Persija Junior, yang selama ini lebih dikenal sebagai jembatan yang luwes antara para pemain dan para pengasuh Persija. Sebab suksesnya Persija di Turnamen “Suratin Cup” sekaligus memperlihatkan perlunya kebijaksanaan Komtek dikoreksi.

***

Hasil Turnamen “Suratin Cup” 1972 (Stadion Persija, Menteng tanggal 22/8 s/d 28/8 ===================================== Jakarta – Semarang 1 — O Situbondo – Bandung 2 — 0 Bandung – Menado 2 — 1 Jakarta – Medan 1 — 1 Jakarta – Bandung 3 — 1 Situbondo – Medan 1 — 0 Bandung – Medan 1 — O Jakarta – Situbondo 2 — 0

**

Juara I : Jakarta Juara II : Situbondo Juara III : Bandung Juara IV : Medan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: